You are now reading:
UOB Indonesia optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan
you are in About Us


You are now reading:
UOB Indonesia optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan
Jakarta, Oktober 23, 2012 – PT Bank UOB Indonesia memprediksi bahwa ekonomi Indonesia akan terus tumbuh sebesar 6,3% (enam koma tiga persen) tahun depan sebagai hasil dari besarnya investasi yang masuk ke negeri ini dan terus menguatnya kekuatan konsumsi domestik.
Ketangguhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global yang berkepanjangan meletakkan Indonesia pada tempat istimewa di komunitas investor internasional karena Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik. Kuatnya fundamental makro ekonomi, pertumbuhan konsumen kelas menengah dan tumbuhnya perdagangan antar-regional membuka peluang bisnis seluas-luasnya bagi industri untuk bertumbuh. PT Bank UOB Indonesia juga melihat peluang yang amat besar itu dalam proyek-proyek infrastruktur di Indonesia.
Jimmy Koh, Kepala Riset dan Hubungan Investor UOB Group, dimana PT Bank UOB Indonesia menjadi salah satu anak perusahaannya, menyambut baik ‘kebangkitan Indonesia’ selama beberapa tahun terakhir, namun juga mengingatkan komunitas bisnis untuk tetap mencermati tantangan-tantangan dalam ekonomi global karena eratnya keterkaitan antara perdagangan, bisnis dan sistem keuangan dewasa ini.
“Bisnis perlu tetap bersiaga terhadap berbagai kemungkinan perubahan di pasar mengingat krisis utang di zona Eropa terus menerus menjadi keprihatinan dan situasi dapat berubah sewaktu-waktu dengan cepat,” kata Koh dalam presentasi di hadapan 500 pebisnis Indonesia yang hadir dalam Economic Outlook 2013 yang diselenggarakan oleh PT Bank UOB Indonesia bertema, “Menemukan kebenaran di balik mitos mengenai Macan Asia Tenggara: Krisis global, dampaknya terhadap Indonesia dan regional.”
“Quantitative Easing (QEs), atau inisiatif moneter di negara-negara maju, telah mengalirkan likuiditas ke belahan bumi Asia, namun menimbulkan kecemasan akan terjadinya overheating ekonomi dan inflasi terhadap harga aset. Banyak pihak menghubungkan situasi krisis sekarang ini dengan krisis keuangan Asia di tahun 1997. Akan tetapi, sebagai perusahaan yang tidak hanya mampu keluar dari krisis keuangan Asia tetapi juga membantu para nasabah kami untuk bertahan melewati krisis, penilaian kami adalah bahwa ekonomi Indonesia dewasa ini jauh lebih kokoh ketika tahun 1997. Cadangan devisa Indonesia sekarang ini mencapai lebih dari $100 miliar, lima kali lipat dari $20 miliar pada akhir 1997. Karena itulah, kami berpendapat bahwa dinamikanya amatlah berbeda dengan krisis 1997,” kata Koh.
Direktur Utama PT Bank UOB Indonesia Armand B. Arief pun menegaskan keyakinan serupa bahwa sering kali dalam suatu krisis justru tersembunyi banyak kesempatan.
“Belajar dari pengalaman berbisnis selama lima dekade terakhir di Indonesia, kami mengembangkan pendekatan bisnis yang didasari oleh prinsip disiplin yang kuat, ketekunan dan kehati-hatian dalam setiap aktivitas bisnis kami.
“Ketika diperlukan, kami menyeimbangkan kembali portfolio kami, memperkuat pendanaan dalam rangka memperkuat landasan kami sebagai Bank, yaitu memiliki neraca keuangan yang kuat. Hanya dengan neraca yang kuatlah kami mampu menopang pertumbuhan para nasabah kami melalui berbagai siklus pasar.
“Lewat sesi tukar pengalaman ini kami ingin berbagi bersama para nasabah kami mengenai informasi praktis yang dapat mereka gunakan untuk membantu membuat keputusan yang tepat dalam menggarap peluang bisnis baru. Dengan informasi yang akurat, kami berharap para nasabah dapat melihat krisis dalam prinsip yang sama disiplin, ketekunan dan kehati-hatian sebagaimana kami terapkan dalam bisnis kami, untuk membangun bisnis mereka.”
Meneropong tahun 2013 ke depan, PT Bank UOB Indonesia percaya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap menjanjikan. UOB Indonesia meramalkan bahwa Indonesia akan mampu meredam goncangan ekonomi global hingga mencapai pertumbuhan 6,3 persen sepanjang tahun depan. Faktor-faktor domestik seperti penghasilan yang lebih tinggi dan kebutuhan investasi di samping membaiknya situasi global tahun depan.
PT Bank UOB Indonesia juga meramalkan tingkat suku bunga acuan akan tetap bertahan di level 5,75 persen hingga akhir tahun 2013. Sementara itu, inflasi diperkirakan mencapai 5,1 persen tahun depan, dari 4,5 persen hingga akhir tahun ini. Pada tahun 2011, Indonesia mencatat laju inflasi hingga 5,4 persen.
Dalam seminar Economic Outlook, hadir juga sebagai pembicara utama dan undangan kehormatan, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Selain itu, tampil juga sebagai narasumber ekonom Faisal Basri.

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan menyesuaikan pengalaman penelusuran Anda. Anda dianggap telah menyetujui kebijakan cookie kami jika Anda melanjutkan untuk menjelajahi situs kami.